Mataram, 30 Juli 2026, Puluhan pengelola jurnal hukum dari kawasan Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur berkumpul di Aula Prof. H. Zainal Asikin, Gedung A Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram, Kamis pagi. Mereka hadir dalam Workshop Jurnal Ilmiah bertema “Penguatan Kapasitas Pengelolaan Jurnal Menuju Indeksasi Nasional dan Internasional”, sebuah kegiatan yang digelar Asosiasi Pengelola Jurnal Hukum Indonesia (APJHI) Wilayah Tengah untuk memperingati satu dekade perjalanan organisasi tersebut.
Acara yang berlangsung sejak pukul 09.30 WITA ini tidak hanya dihadiri secara luring, tetapi juga disiarkan melalui Zoom untuk menjangkau pengelola jurnal di wilayah yang lebih luas. Total tidak kurang dari 56 jurnal hukum turut diundang, terdiri dari 18 jurnal di lingkup NTB, termasuk sembilan jurnal dari FHISIP Universitas Mataram sendiri, seperti Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, Unram Law Review, dan Jatiswara, ditambah 32 jurnal dari berbagai kampus di Bali dan enam jurnal dari NTT. Dari lini Zoom Bali, kegiatan ini turut mendapat perhatian khusus dari dua akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, yakni Prof. Dr. Dewa Gede Sudika Mangku, S.H., LL.M., pengelola Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), dan Dr. Ni Putu Rai Yuliartini, S.H., M.H., pengelola Jurnal Ganesha Law Review, yang mengikuti seluruh rangkaian materi secara daring.
Sesi pertama dibuka oleh Prof. Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, S.H., M.Hum., LL.M., yang mengupas motivasi di balik upaya menembus indeksasi Scopus. Menurutnya, dorongan untuk mempublikasikan artikel di jurnal bereputasi internasional tidak hanya datang dari kebutuhan menyebarluaskan hasil riset, tetapi juga terkait erat dengan reputasi akademik, peluang kolaborasi lintas negara, hingga prasyarat administratif seperti pengajuan guru besar dan kelulusan program doktoral. Namun ia menegaskan, meraih status terindeks Scopus bukanlah garis akhir. “Justru di sanalah tantangan sesungguhnya dimulai,” demikian inti pesannya, seraya merinci sejumlah standar manajerial yang wajib dijaga pasca-indeksasi, mulai dari proses review yang melibatkan dua reviewer dengan komentar spesifik yang terekam di sistem, pemeriksaan similarity di setiap tahap, hingga verifikasi terhadap sumber primer. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi riset lintas institusi sebagai salah satu kunci keberlanjutan reputasi jurnal.
Materi penutup menyoroti sisi teknis yang selama ini kerap luput dari perhatian: pengelolaan Open Journal System (OJS). Tiga persoalan utama diidentifikasi, yakni keandalan sistem IT, keteraturan alur kerja manusia, dan kepatuhan terhadap standar akreditasi. Dari sisi teknis, peserta diingatkan bahwa downtime yang berulang dapat menghambat proses telaah naskah, memperlambat penerbitan, bahkan merusak kredibilitas jurnal di mata pembaca dan lembaga pengindeks. Ancaman lain yang tak kalah nyata adalah serbuan akun spam yang membebani basis data dan server, sehingga migrasi ke layanan managed OJS hosting profesional pun disebut sebagai kebutuhan yang mendesak, bukan lagi sekadar pilihan.
Sementara dari sisi editorial dan manajerial, tiga tantangan utama mengemuka: kompleksitas alur kerja mulai dari submission hingga layouting, pembagian peran yang kerap tumpang tindih antara editor, reviewer, proofreader, dan admin IT, serta konsistensi penerapan etika publikasi sesuai pedoman COPE yang menjadi syarat mutlak dalam evaluasi akreditasi nasional. Sesi ini ditutup dengan pemaparan matriks persyaratan dan tantangan bagi jurnal yang membidik akreditasi ARJUNA/SINTA maupun indeksasi global seperti DOAJ dan Scopus, lengkap dengan sesi tanya jawab interaktif yang membahas dampak perubahan sistem akreditasi terhadap jurnal-jurnal yang masih berada di level Sinta 5 dan 6.
Sebagai forum konsolidasi di momentum peringatan sepuluh tahun berdirinya APJHI, workshop ini diharapkan menjadi titik tolak bagi pengelola jurnal hukum se-Bali, NTB, dan NTT untuk saling berbagi praktik baik, memperkuat tata kelola secara kolektif, dan pada akhirnya mempercepat langkah jurnal-jurnal hukum daerah menembus panggung indeksasi nasional maupun internasional. Dengan bekal strategi penulisan, manajemen editorial, hingga kesiapan infrastruktur teknis yang dibahas tuntas dalam satu hari penuh ini, semangat kolaborasi antarpengelola jurnal diharapkan terus terjaga jauh melampaui seremoni ulang tahun organisasi.


